Jumat, 21 Juni 2013

I Get What I Need

Kesekian kalinya aku mendapatkan bukti nyata bahwa Allah senantiasa memberi yang kubutuhkan dan yang kuinginkan. Mungkin ini hanya hal yang sepele. Namun, aku tak menganggapnya demikian. Sekian yang telah kulalui aku yakin ini bukan suatu kebetulan. Ini hanyalah cara Allah mengingatkanku agar senantiasa mengingat-Nya. Setelah beberapa hari nafsu makanku menginginkan mi ayam yang tak kunjung terpenuhi, hari ini Allah menghidangkannya untukku, gratis.

Ya, seperti rutinitas mingguan yang sudah terjadwalkan, malam ini aku usroh bersama teman-teman An-Naafi' di rumah sang murabbi tercinta, Mbak Peni. Setelah selama perjalanan usroh dihidangkan berbagai macam panganan dan juga buah, sellau saja ditutup dengan makanan, dan kali ini seperti yang telah kuinginkan beberapa hari lalu, mi ayam. Hmm..

Eits, tapi bukan itu inti yang ingin kusampaikan. Beberapa hari ini aku memikirkan ide untuk membuat sebuah tulisan dengan tema "Alasan Kamu Bangga menjadi Seorang Muslim". Nah, pada materi usroh kali ini mbak Peni membahas mengenai mengapa kita harus mempelajari Islam? Jawabannya adalah agar kita cinta terhadap Islam. Tak kenal maka tak sayang, begitu pepatah mengatakan. Setelah ia cinta, maka ia akan bangga terhadap Islam. Tahap selanjutnya ia akan menghilangkan kebodohan. Menghilangkan kebodohan itu dengan belajar dari ulama', tidak sekedar otodidak. Nah, yang terakhir adalah agar kita mengenal hukum-hukum Islam.

Kawan, dari sinilah aku benar-benar yakin terhadap artikel yang akan kutulis "Telur Emas dalam Sarang". Nampaknya hal tersebut akan pas dengan yang ingin kuutarakan, bahwa aku bangga menjadi seorang muslim karena Islam mengajarkanku meniti jalan yang lurus untuk menggapai rahmat-Nya.

This is my story today.


See you next story. 

Jumat, 10 Mei 2013

Lingsir

Senja

Semangkuk bubur ayam telah terhidang di mejanya. Mitra menaruh seikat kembang seruni di sampingnya. Tepat di depan bingkai fotonya bersama Selly, kekasihnya. Ada getir yang tiba-tiba meletup dari bilik jantungnya. Ia masih terpaku pada potret 4R yang ia pajang di mejanya.
            “Ah, senyum itu,” gumamnya seolah meratap.
            Ia tak pernah bisa membalikkan waktu. Sesal selalu datang pada saat yang tidak tepat. Gemuruh risau merajai hatinya kini. Hidup segan, mati pun tak hendak.
Tanpa gairah ia ambil sesuap bubur ayam yang hampir dingin itu. Sesendok terasa semangkuk penuh bagi perutnya. Ia tak berhasrat. Bukan, bukan karena Selly meninggalkannya. Ia telah begitu rela—walau sedikit memaksa—melepaskan Selly. Ia tak pernah tega melihat gadisnya meratap untuknya. Dirinya bukan lelaki yang pantas untuk mendapatkan tangis gadis lugu itu.
Waktu yang membuatnya jatuh hati pada Selly, maka ia pun membiarkan waktu pula untuk menyembuhkannya dari luka. Ia sadar itu terlalu menyakitkan bagi Selly. Akan tetapi, ia tak ada pilihan lain. Ia harus melakukannya agar Selly tak lebih terluka.
“Sebentar lagi aku akan pergi.” Mitra kembali memandangi fotonya. Nampak menjulang menara Eifel kala senja. Itulah tempat terakhir yang mereka kunjungi bersama.
Masih jelas bercokol di telinganya kala Selly mengatakan, “Lingsir, istilah lain untuk menamai senja. Namun, entah mengapa aku lebih menyukai lingsir. Terasa sekali proses sang mentari menyembunyikan dirinya kala senja. Perlahan lindap di balik perbukitan, atau menggelincir menyelam di luasnya samudra.”
Ah, gadis itu tak pernah tahu bahwa Mitra sebentar lagi benar-benar lingsir. Ia tak kan pernah terbit untuknya esok pagi. Ia akan moksa bersama matahari senja.

Sementara itu, di belahan lain, seorang perempuan berambut hitam kecoklatan duduk di halte menatap mentari yang sebentar lagi lingsir. Matanya tak mau sedikitpun terlepas darinya. Ujung jemarinya bergantian ia mainkan di bangku yang ia duduki. Irama ketukan itu berlomba dengan bising kendaraan lalu lalang. Beberapa bis telah berlalu, sekian orang pun sudah beranjak. Namun, ia belum pula melenggang pergi.
Surya tak mau diajak kompromi. Ia nyaris menenggelamkan tubuhnya. Jingga sudah bercampur ungu kehitaman. Bibir perempuan itu mengucap sederet keluhan, “Ia tak datang lagi.” Bulat telur mukanya nampak penuh saat sinar lampu kota memantul tepat di wajahnya, menegaskan garis mukanya yang segar dan anggun.
Ia betulkan letak jam tangannya yang bergeser. Jam enam tepat. Lelaki yang ditunggunya tak datang lagi. Kecewa, sudah pasti. Hanya saja itu tak memberinya alasan yang tepat untuk menyerah. “Esok, Mitra pasti datang,” ucapnya sembari beranjak dari bangku yang tiap sore jadi teman setianya. Ia meninggalkan bangku itu bercumbu dengan malam yang mulai merangkak.
Malam pun berkuasa di tempat Mitra. Ia menghibur diri dengan main catur. Seorang diri. Tak ada orang lain. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya sendiri. Mengingat kembali potongan-potongan kenangannya bersama Selly.

“Tidak, Mitra, kau tak pantas melakukan itu padaku!” Suara Selly meninggi. Ia mengumpulkan penggalan tenaganya, “kau tak berhak meninggalkanku setelah semua yang kita lewati.”
Mitra hanya diam. Terasa ada yang menyumbat kerongkongannya. Ia tak mampu walau hanya untuk menelan ludah. Bibirnya bungkam. Ia sembunyikan matanya dalam-dalam. Ia tak mau Selly melihat pancaran matanya yang tak bisa berdusta.
“Baiklah kalau itu maumu. Berbahagialah dengan wanitamu. Kuharap kita tak pernah bertemu lagi di lain hari!” Selly meninggalkan Mitra dengan hatinya yang hancur berkeping-keping.
Mitra pun hancur. Wanita lain? Itu hanya kelakar saja agar Selly tanpa sesal meninggalkannya. Satu-satunya perempuan di hatinya hanyalah gadisnya itu. Ia tak pernah membelot. Hanya saja kanker di kepala tak lagi bersahabat. Ia hanya mampu menghitung detak waktu untuk menjemput ajalnya.

Mitra membereskan pion caturnya kala serangan tiba-tiba itu muncul. Telinganya berdenging, tempurung kepalanya seolah hendak meledak. Pion-pion caturnya jatuh berserakan di lantai. Kedua tangannya mencengkeram kepalanya yang botak. Tubuhnya tersungkur. Ia mencoba menahannya. Namun, hasilnya nihil. Seluruh tubuhnya gemetat. Darah mengalir dari lubang hidung, telinga, bahkan mulutnya. Ia berusaha meraih obat di mejanya. Sayangnya yang ia dapatkan hanya segelas air yang kemudian tumpah dan pecah. Semuanya pun gelap, seperti senja yang telah lingsir.

Senja-senja berikutnya, Selly masih menunggu Mitra. Ia berharap Mitra kembali hadir mengemas senja untuk mereka. Di sanalah Selly menghabisnya senjanya. Di sanalah ia menyaksikan matahari lingsir ke peraduan. Ia tak pernah tahu bahwa Mitra ikut lingsir bersama mentari senja.


Malang, 8 Mei 2013
Mendadak ingin menulis tentang senja

Kamis, 09 Mei 2013

Lagu Inspiratif Indonesia

Jika mendengar kata inspiratif, nampaknya banyak orang yang memburunya. Kata ini sangat renyah dan gurih seperti kacang goreng yang selalu laris di kalangan manapun.

Baiklah kawan, kali ini saya akan membahas sedikit mengenai lagu inspiratif Indonesia versi saya sendiri.

Menjamurnya boyband dan girlband di Indonesia berbanding lurus dengan merebaknya lagu-lagu galau. Semakin hari semakin sulit untuk menemukan lagu yang benar-benar inspiratif. Yang sering dijumpai adalah lagu-lagu melankolis yang meningkatkan kegalauan. Mulai dari patah hati, dihianati, cinta tak direstui, dan lain sebagainya.
Namun, apakah lantas kita menyerah begitu saja?

Tenang friends! Ternyata masih ada kok lagu anak negeri yang inspiratif. Misalnya, lagu-lagunya Bondan. Jika kalian perhatikan, lirik lagunya Bondan benar-benar keren. Misalkan yang dulu sempat booming ada lagu yang berjudul "Ekspresi". Inget kan?

Oke, next. Selain "Ekpresi" juga ada RIP yang mengisahkan tentang penghormatan terhadap sahabat. Persahabatan itu abadi, Friens! Melalui lagu itu, nampaknya Bondan benar-benar ingin mengapresiasi persahabatannya. Meski berawal dari masa-masa kelam, tapi mereka tetap bangkit. So, what the problem is?

Ingat mati, Ingat sakit
Ingatlah saat kau sulit
Ingat-ingat hidup cuma satu kali

Lirik lagunya siapa ini? Yup! Lagunya WALI. Walau nada-nadanya agak melayu, tapi setidaknya grup band ini benar-benar memberikan pesan pada tiap lirik lagunya.

Well, kali ini kita bahas sampai di sini dulu, ya. Masih ada kerjaan lain yang belum kelar.
Thank for All.
See you next episode!

Mahasiswa, Jangan Biarkan Dirimu Disetir

Oleh: Ani Aulia Safitri


            Sebagai sosok yang menjadi pusat perubahan (agent of change), jangan biarkan dirimu (Mahasiswa) dikendalikan oleh hal lain yang memiliki kepentingan tertentu, yang pada akhirnya menimbulkan hal yang tidak diinginkan. Biarkan semuanya mengalir tanpa ada pengaruh dari oknum-oknum tertentu yang dapat menimbulkan ketimpangan.
Berpikir kritis mampu menjadi tameng bagi mahasiswa agar tidak terpengaruh oleh isu-isu yang diberikan oleh oknum tertentu. Sebagai mahasiswa, tentunya dapat berpikir kritis dan cermat dengan segala situasi yang ada. Tidak dengan cepat mengambil kesimpulan terhadap sesuatu yang terjadi. Ada pertimbangan yang mendukung dengan kuat suatu keputusan yang diambil. Ada alasan rasional yang membenarkan suatu tindakan. Selain itu penyimpulan terhadap sesuatu itu juga mempertimbangkan fakta-fakta dan bukti yang konkret.
            Mahasiswa yang cerdas tidak akan dengan mudah dipengaruhi oleh pihak lain. Mereka tidak dapat disetir untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh pihak tertentu, meskipun hal itu telah dibungkus dengan rapi. Mahasiswa yang tanggap terhadap situasi dan kondisi tidak akan bisa diracuni dengan pemikiran-pemikiran kotor yang dijejalkan oleh pihak yang berkepentingan. Dengan begitu, Mahasiswa tidak dapat dijadikan sebagai alat untuk mewujudkan kepentingan tertentu. Mereka tidak dapat menjadikan mahasiswa sebagai tebengan yang mau mengantarkan pihak-pihak yang tidak diinginkan ke tempat yang mereka mau. Mahasiswa tidak bisa menurut begitu saja seperti kerbau yang dicocok hidungnya, yang bisa dikendalikan dengan mudah demi tercapainya keinginan dan tujuan suatu pihak.
            Sekarang saatnnya bagi mahasiswa untuk menempatkan dirinya pada posisi di mana seharusnya ia berada. Memperjuangkan kebenaran dan keadilan demi kepentingan umum, bukan kepentingan pribadi dan golongan. Menunjukkan keberadaan yang berguna. Mahasiswa harus benar-benar berjuang untuk mewujudkan hal yang lebih baik bagi semua pihak. Mahasiswa juga harus menghilangkan pengotakan antarmahasiswa sendiri. Mahasiswa harus mampu mewujudkan kerjasama untuk membentuk kesatuan yang solid sehingga tidak dapat ditebengi oleh pihak-pihak tertentu yang merusak.
            Sebagai sosok yang unik dan misterius, Mahasiswa mampu melakukan banyak hal untuk merintis perubahan yang lebih baik. Sifat kritis, energik, ambisius, idealis, mampu mendukung hal itu. Alur pemikiran yang tidak dapat ditebak juga memberikan kontribusi yang cukup besar untuk mewujudkan perubahan yang lebih baik. Oleh karena itu, jangan biarkan dirimu (Mahasiswa) disetir oleh pihak lain yang memiliki misi tertentu yang dapat menodai kebenaran dan menindas keadilan. Terus lakukan perubahan-perubahan yang menunjukkan dirimu tidak dapat disetir untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan.




Kamis, 14 Februari 2013

Kutemui Kau di Padang Penantian

Punguk dan Bulan


 Rinduku padamu, Bulan menyemai ratap tiap malam. Tiap larik geguritan menggantung tanpa sempat melenggang. Tanpa penobatan. Tanpa apresiasi. Didengarpun jarang. Perlahan usang.
 Kelesap desau angin memburu dari balik dedaunan. Menjemput sebagian arwahku untuk bertualang. Secongkel rindu masih kukenang. Kubawa terbang bersama malam yang lindap membungkus cahaya.
“Aku kan kembali,” bisikmu di kejauhan lokasi.
“Aku menunggumu,” balasku dengan seutas senyum simpul. Harap dan getir membaur. Sudut bibirku tak mampu menipu hati yang usang.
Secepat kilat, kelam menghanyutkanku. Tanpa cahayamu aku berkelana. Tak jarang sayapku menerjang reranting.
“Aku hanya ingin berjumpa denganmu,” ratapku dalam hati.
Sayapku mulai kaku. Dingin jahannam menyiksaku. Tidak! Aku harus tetap melaju. Mengejarmu. Memburu cahayamu.
Di sela gelisahku kurapal mantra agar kau segera menjelma, Bulanku. Menunggu purnama terasa begitu lama. Lelah jiwaku mengais cintamu. Namun, rinduku tiada pernah surut.
“Aku akan menemuimu tepat pada malam purnama. Ketika rembulan bulat penuh dan bermandi cahaya perak.” Masih kudengar jelas pesanmu saat perjumpaan kita yang terakhir.
“Bulan, di manakah dirimu kini? Rindu dalam dadaku sudah meletup-letup seperti larva panas yang menggeliat ingin keluar,” gumamku dalam malam yang malas.
Kidungku berpacu dengan sorai jangkrik pesta pora. Musim panen katanya. Ah, jengah aku mendengarnya. Mereka gembira ria, sementara aku menderita lantaran rindu yang kau tinggalkan.
Bulan, aku kembali mengepakkan kedua sayap yang tak lagi penuh tenaga. Beberapa buluku telah lepas menempuh bermil-mil gelap cakrawala. Hanya untuk menjemputmu. Bulan, di kejauhan sana, di singgasanamu, kuharap kau dengarkan alunan kidungku tentangmu. Bulan, kutemui kau di padang penantian.  

Malang, 14 Februari 2013
Masih Menanti
ALK

Sabtu, 09 Februari 2013

Serial Anak Kangkung #1 Si Kunyuk

"Rumah di pojokan itu masih punyamu kan?"
"Ya iyalah. Memang sudah berpindah tangan?" jawabku sekenanya.
"Enggak, cuman aneh aja kok aku gak pernah lihat kamu di sana. Malah si kunyuk itu."
"Eh? Maksud kamu?"
"Iya, si kunyuk itu. Andre. Ketua geng Cabe yang waktu itu kamu sikat. Masak lupa sih? Tuh anak kampung sebelah, yang bangga sama kekayakan bapaknya. Masih juga juragan beras, sombongnya minta ampun. Trus... bla bla bla..."

Haish... sejak kapan anak ini ngomongnya kayak jet? Kupingku denging terus denger dia ngoceh.

"Ra, tungguin dong! Jangan cepet-cepet jalannya!"
"Ntar keburu telat!" teriakku.

Sepulang sekolah...

Aku berjalan pelan. Sengaja kuhindari Aca. Aku tak ingin rencanaku kali ini gatot (gagal total) gara-gara dia. Aku ambil jalan memutar. Meski lebih jauh dan lama, aku lebih suka lewat sini. Hamparan sawah masih membentang. Jalannya pun masih setapak. Kerikil yang bertebaran jadi senssasi luar biasa. Bisa untuk terapi rematik mungkin. Jarang lo, pinggiran kota kayak gini. Banyak hal yang kusuka lewat jalan ini, kecuali genangan air di beberapa badan jalan. Bikin sepatu kesayangannku kumal.

"Apa ya yang dilakukan si Andre di sekitar rumahku?" pikirku penasaran. "Masak iya dia mau pasang bom di sana? Alah... gak mungkin." Aku yakin seribu persen, si kunyuk itu tak bakalan berani macam-macam. "Anak bermental tahu macam dia tak perlu dirisaukan," hiburku.

"Ra! Ngapain kamu lewat situ?"
Aku kenal betul suara itu. Aca. Ampun! Sampai kapan anak ini selalu jadi ekorku?
Aku terus berjalan.Tak kuhiraukan teriakannya.
"Ira, tungguin?"
Ih... nih anak, selalu bikin dongkol.
"Woi, ngapain kamu lewat sini? Emang ada jalan tembusnya ya? Ntar kalau kita diculik gimana?" Aca kontan mencerecau seperti burung beo habis makan pisang.
"Plis deh, Ca. Mana ada penculik yang mau nyulik kamu. Ogahlah. Makan kamu kan banyak!"
Tanpa ba-bi-bu Aca menggaplok pundakku.
"Kok kamu gitu sih sama temen sendiri?"
Tanpa merespon protesnya aku ngeloyor pergi.

Beberapa menit kemudian.
"Ra, itu kan si Andre! Ngapain dia di belakang rumah kamu?" celetuk Aca sembari menuding rumah di pojok jalan yang tak lain adalah rumahku. Lewat jalan yang memutar ini, aku persis muncul dari belakang rumah.
Aku masih tertegun. Tak yakin bahwa bocah laki-laki itu si Andre, bocah paling tengil yang aku kenal. Sejurus kemudian, buberikan isyarat pada Aca untuk berhenti. Masih kuperhatikan gerak-gerik Andre. Nampak mencurigakan. Kepala kecilnya celingak-celinguk. Aku dan Aca segera bersembunyi di balik semak di belakang rumah.
Semakin kuperhatikan, lakunya makin aneh. Ia jongkok lalu mengeluarkan sebuah pisau. Ia gali tanah tepat di depannya menggunakan pisau itu. Aku dan Aca masih memperhatikan. Nampak sebuah kotak kecil tua ia masukkan dalam kresek hitam. Setelah yakin lubang yang digalinya cukup dalam, ia tenggelamkan bungkusan itu ke dalamnya. Segera ia kubur rapat-rapat lubang yang telah ia gali.
"Ra, apa ya yang dikubur si Kunyuk itu?" tanya Aca.
Kuacungkan jari telunjuk dan menempelkannya pada kedua bibirku sebagai isyarat agar Aca diam.
Melihat Andre hendak pergi, aku langsung menghambur ke arahnya, "Heh, Kunyuk! Ngapain kamu di belakang rumahku! Barusan itu apa yang kamu kubur? Kamu mau nyantet aku?"
Muka Andre kontan seperti pantat babi. Merah. Nampak dirinya bergetar.
"Jawab dong! Masak beraninya cuma main belakang aja?" tantangku.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia mangkat dari hadapannku. Aku dan Aca hanya melongo.

Bersambung...

Sabtu, 12 Januari 2013

CHANGE (Perubahan)

Assalamu'alaikum pembaca yang budiman.

Setelah seharian PP Malang-Trenggalek-Malang selama 12 jam, akhirnya untuk sejenak saya bisa menuangkan cerita hari ini. Saya hari ini belajar tentang satu hal, yaitu tak selamanya kita pada posisi kita saat ini. "Kita tak lagi seperti dulu," begitu kata teman-teman. Mungkin, dirasakan atau tidak kita telah berubah, move on dari satu titik ke titik lain.

Tak ada kepastian dalam hidup. Satu-satunya hal yang pasti adalah perubahan. Tanpa kita inginkan pun, perubahan akan terjadi pada diri kita. Hanya saja kita adalah nahkoda yang menentukan ke mana kapal akan berlayar. Kita adalah pilot yang mengarahkan ke mana kita akan membawa diri kita terbang melintasi cakrawala kehidupan. Jika demikian, akankah kita memilih untuk sesuatu yang seharusnya tak kita pilih?

Kawan, hidup itu penuh dengan keputusan. Rian Adriandi, seorang comic pun pernah menyatakan bahwa kehidupan yang kita jalani saat ini adalah dampak dari keputusan kita di masa lalu. Begitu pula selanjutnya, masa depan kita adalah dampak dari keputusan kita sekarang. Jadi kawan, kita tak perlu resah dengan perubahan yang kita miliki. Kita hanya perlu mengarahkan layar agar kapal kita bergerak pada arah yang benar.

KEEP SPIRIT TO MOVE ON!

Jumat, 11 Januari 2013

Tentang Cinta

Cinta, selalu memberikan sensasi yang tak mudah ditebak. Cinta, bukan sekedar untuk pasangan yang kita sayang, tetapi juga untuk orang-orang terdekat kita, ayah, ibu, kakak, adik, ataupun saudara. Bagi sebagian orang menyatakan cinta tak memerlukan waktu berjam-jam. Just say "I Love You", "Wo Ai Ni", "Ai Shiteru", "Saranghae", dan masih banyak yang lain. Namun, ternyata bagi sebagian orang tidak mudah untuk menyatakan cinta. Baginya menyatakan cinta adalah hal rumit yang tak mudah untuk dipelajari.

Ada keangkuhan yang harus benar-benar dirobohkan untuk menyatakan cinta pada orang yang kita sayang. Tak jarang karena keangkuhan, seseorang tak pernah bisa menyatakan cintanya. Harga dirinya terlalu besar untuk dipertaruhkan demi menyatakan cinta. Namun, bukan itu saja. Ada juga orang yang tak mampu menyatakan cinta karena ia tak tahu bagaimana cara menyatakannya. Tak sedikit orang yang menganggap cinta tak hanya dinyatakan, tetapi butuh bukti. Lantas bukti apa yang mampu untuk menunjukkan cinta dan sayang kita pada seseorang?

Hari ini Ani belajar bahwa kekerasan bagi seseorang juga termasuk menyatakan rasa cinta, rasa sayang. Sayangnya bagi orang lain hal itu diartikan berbeda. Bagi sebagian yang lain bahwa memarahi anak adalah termasuk bagaimana mereka mendidik. Padahal itu bukan hal yang tepat untuk mendidik. Kata-kata itu hanya akan terbuang sia-sia. Yang diperlukan hanyalah contoh konret. Seseorang butuh figur untuk mengembangkan dirinya sebelum ia menemukan jati dirinya.

Sering kita salah paham akan perlakuan orang lain terhadap kita. Termasuk saya. Saya termasuk orang yang mudah menyatakan cinta pada orang yang saya sayangi. Akan tetapi, tidak kepada ayah saya. Entah mengapa. Saya juga tidak tahu. Tetapi, hari ini saya belajar bahwa rasa cinta kadang tak butuh untuk dikatakan. Kita hanya butuh beberapa waktu saja untuk memahami arti perlakuan orang lain terhadap kita. Melihat sisi terang dari seseorang. Itu akan membuka mata kita bahwa orang tersebut sangat menyayangi kita. Hanya kita saja yang terlalu sempit mengartikan CINTA.

Salam hangat,
I Love You Daddy


Jumat, 04 Januari 2013

Aku Bukan Bola


“Hah? Gila! Kau samakan aku dengan bola?” mataku membelalak seakan hendak melompat keluar. Bagaimana tidak? Cowok yang baru kenal aku tiga hari yang lalu berani-beraninya menyamakan aku dengan bola. Memangnya dia siapa? Anak pejabat? Konglomerat? Pialang metropolitan? Enggak tuh?
            “Heh! Maksud kamu tu apa sih? Ikut campur aja urusan orang. Go away!” Ku alihkan pandanganku dari laki-laki yang topik obrolannya selalu bola.  
            “Hey, Nona, jangan marah dong!”
            Ih, bener deh pengen nggemplang tuh anak pakek highheelsku.
“Udah deh, mending kamu gak usah nempel-nempel ke aku. Gerah tau gak!”
            “Oh, so sweet. Cakep banget kalok marah...”
            Ya ampun. Kenapa ada sih orang kayak gini? Please deh, jauhkan aku dari makhluk ini ya Allah. Ku ambil langkah seribu untuk segera menghilang dari benda aneh seperti dia. Akan tetapi, aku mikir juga masa sih aku kayak bola? Oh, God. Mampus dah!
            Kucoba tenangkan diri. Kupejamkan mata, fokus, stay cool. Bibirku pun monyong menghembuskan napas yang baru ku ambil. Lantas, kubuka kembali mataku.
            “Eits,” cecunguk itu nongol lagi tepat di depan hidungku. Jantungku hampir copot, untung gak jadi. “Apa sih mau kamu? Belum puas ngatain aku kayak bola? Asal kamu tau ya, aku bukan orang yang seenaknya dibuat mainan.”
            “Bukan gitu, tapi kamu tuh kayak bola di hatiku. Bener deh... gak ada yang ngalahin.”
            “What? Sinting kamu ya!”
            “You are so special sweety...”
            “Makan tu sweety!” tak tahan lagi kulempar highheelsku. Lalu aku melenggang meninggalkannya.

Cinta di Ujung Ufuk

Cinta di Ujung Ufuk

Merah mawar tak semerah cintaku
Hijau daun tak sehijau hatiku
Tegar  karang tak setegar digdayaku
Namun, cintaku menggandul di ujung ufuk

Kau lihat, bias mentari yang menggantung di ujung langit?
Memulas hatiku tuk bersinar senantiasa
Menjaga cinta agar tetap merah saga

Kenangan pahit itu pun kugulung
Kuikat erat agar tak berlari lolos darinya
Sementara aku masih menyulam hati untuk tetap bisa mencintaimu
Cintaku menggantung di ujung ufuk
Tertahan, tertanam, dan terbenam
Sayang, cintaku menggantung di ujung ufuk
menanti kau raih sebelum tenggelam dalam kelam lautan

Malang, 28 Juli 2012

Lirik Lagu Pop yang Puitis


 Lagu Pop yang Puitis, Ada Gak Ya?

 Salam Indonesia!
Para blogger yang budiman, ada gak sih lirik lagu pop anak negeri yang puitis? Jawabnya, tentu ada dong!

Di tengah kemelut belantika musik nusantara, nampaknya kian hari kian susah mencari lirik lagu yang puitis, apa lagi yang penuh makna. Yang banyak malah yang galau-galau gak jelas gitu. Padahal nih, penikmat musik itu tak sekedar menikmati aransemen instrumentnya doang. Jelas juga liriknya ikutan nimbrung dong. Kalau yang didengerin lagu-lagu yang liriknya galau, trus mau jadi apa? Apa mau kita jadi galauers sejati? Sorry ya, gak level buat anak yang ngerasa gaul!

Ok, kita tak usah membahas yang membuat galau. Sekarang langsung saja, kira-kira grup band mana sih yang lirik lagunya kebanyakan puitis dan penuh makna?

Tentunya kenal Peter Pan kan? walaupun sekarang sudah bubar aku rasa lagunya tak ikut bubar kan? Karena sebuah karya tetaplah karya. Tak dapat dimusnahkan. Salah satu yang menjadi favoritku adalah "Tak Ada yang Abadi". Berikut penggalan liriknya:

Tak kan selamanya, tanganku mendekapmu
Tak kan selamanya, raga ini menjagamu
Seperti alunan detak jantungku
Tak bertahan melawan waktu
Dan semua keindahan yang memudar
Atau cinta yang tlah hilang

Tak ada yang abadi

Biarkan aku bernapas sejenak sebelum hilang

Selain itu, "Di Balik Awan" juga menjadi vavoritku

Kutak selalu berdiri
Terkadang hidup memilukan
Jalan yang kulalui
untuk sekedar bercerita
Pegang tanganku ini
dan rasakan yang kuderita
Apa yang kuberikan 
tak pernah jadi kehidupan
Semua yang kuinginkan
Menjauh dari kehidupan

Tempatku melihat di balik awan
Aku melihat di balik hujan
Tempatku terdiam tempat bertahan
Aku terdiam di balik hujan

Ada lagi, ini penggalan liriknya

Mulai nyalakan kembali dunia yang terlupa
Cukup sudah bermimpi
Kini asaku memutih
Langitku kan meninggi
Ini semua akan nyata

Mengharapkan hujan larutkan nyanyian malamku
Akankah kurasa

Mampu kutatap kembali dunia yang terbenam
Terbitku dari mimpi
Kini saksikan sayapku 
Apungkan puing bumi
Ini semua pasti nyata

Lirik lagu berikutnya yang tak kalah puitis adalah Bondan

Berikut penggalannya:
Kujelang matahari dengan segelas teh panas
DI pagi ini ku bebas karena gak ada kelas
Di ruang mata ini kamar ini serasa luas
Letih dan lelah juga lambat-lambat terkuras
Teh sudah habis, kerongkongan pun puas
...

Tinggalkanlah gengsi 
Hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi
Agar semua terjadi
...

Atau yang satunya:

teori simple tak sekompleks teori darwin
tapi tak gampang sperti coba menangkap angin
contoh... standar manusia tapi standar yang mana?
karna semua ingin lebih dari sebelumnya
jika satu tambah satu sama dengan dua
knpa hitunganku slalu saja tidak sama...
mungkin saja karna faktor x
atau mungkin manusia slalu ikuti teks
terkadang anak panahku melesat jauh
terkadang ku tangguh lalu kemudian jatuh
aku coba bangkit meskipun sulit
kecepatan penuh dari bumi ke langit

reff:
ku coba untuk bangkit... bumi ke langit
meski terasa sulit... dari bumi ke langit
terbang melayang... bumi ke langit
dari bumi ke langit... dari bumi ke langit


Benar-benar paduan bunyi yang sangat seksi saya rasa. Sheila on 7 pun tak kalah puitisnya. Coba simak saja   lirik lagunya berikut:

Kita berlari dan teruskan bernyanyi
Kita buka lebar pelukan mentari
Bila kuterjatuh nanti
Kau siap mengangkat aku lebih tinggi

Seperti pedih yang telah kita bagi
Layaknya luka yang telah terobati
Bila kita jatuh nanti
Kita siap untuk melompat lebih tinggi

Bersama kita bagai hutan dan hujan
Aku ada karena kau telah tercipta
...

Nah, sekarang ada gak ya, lirik-lirik lagu yang puitis dan punya pesan yang dalam seperti mereka? Tak sekedar tentang cinta yang galau. E, ya, lupa juga mencantumkan Om Iwan Fals, Om Chrisye (Almarhum), Om Ebiet juga. Lirik-lirik lagu beliu adalah yang paling aku suka.

Salam SEMANGAT!

Rabu, 02 Januari 2013

Lagu Kebangsaan


Akulah anak Indonesia! Mungkin bagi sebagian orang itu hal sepele yang tak perlu dikatakan. Yang penting ada di Indonesia, makan dari bumi Indonesia, bernapas dari udara Indonesia. Eits! Tunggu dulu. Ternyata tak semudah yang kita bayangkan. Banyak anak Indonesia yang tak mengenal Indonesia, bahkan mata uang yang digunakan pun bukan mata uang Indonesia. Coba tengok di film "Tanah Surga (katanya)". Di sana kita bisa saksikan bahwa masih ada anak Indonesia yang tak mengenal negaranya. Bahkan lagu Indonesia Raya saja tak tahu. Lebih melekat lagu "kolam susu".
Kawan, kita tengok lagi. Benarkah hal tersebut hanya terjadi di daerah perbatasan? Jangan-jangan di kota metropolitan pun anak Indonesia tak lagi kenal bumi pertiwi. Nampaknya lagu Ayu Ting Ting lebih menarik perhatian ketimbang lagu kebangsaan.
Lantas, akankah kita diam seribu bahasa mengenai ini? Wake up guys! Kita tinggal di tanah kita! Di bumi Indonesia! Jangan sampai kita tak tahu diri kita. Jangan sampai bumi yang kita pijak mengutuk kita menjadi penderita alzheimer! Mari, sejenak kita nyanyikan Indonesia Raya!