![]() |
| Punguk dan Bulan |
Kelesap desau angin memburu dari balik dedaunan.
Menjemput sebagian arwahku untuk bertualang. Secongkel rindu masih kukenang.
Kubawa terbang bersama malam yang lindap membungkus cahaya.
“Aku kan
kembali,” bisikmu di kejauhan lokasi.
“Aku
menunggumu,” balasku dengan seutas senyum simpul. Harap dan getir membaur.
Sudut bibirku tak mampu menipu hati yang usang.
Secepat kilat,
kelam menghanyutkanku. Tanpa cahayamu aku berkelana. Tak jarang sayapku
menerjang reranting.
“Aku hanya ingin
berjumpa denganmu,” ratapku dalam hati.
Sayapku mulai
kaku. Dingin jahannam menyiksaku. Tidak! Aku harus tetap melaju. Mengejarmu.
Memburu cahayamu.
Di sela
gelisahku kurapal mantra agar kau segera menjelma, Bulanku. Menunggu purnama
terasa begitu lama. Lelah jiwaku mengais cintamu. Namun, rinduku tiada pernah
surut.
“Aku akan menemuimu
tepat pada malam purnama. Ketika rembulan bulat penuh dan bermandi cahaya
perak.” Masih kudengar jelas pesanmu saat perjumpaan kita yang terakhir.
“Bulan, di
manakah dirimu kini? Rindu dalam dadaku sudah meletup-letup seperti larva panas
yang menggeliat ingin keluar,” gumamku dalam malam yang malas.
Kidungku berpacu
dengan sorai jangkrik pesta pora. Musim panen katanya. Ah, jengah aku
mendengarnya. Mereka gembira ria, sementara aku menderita lantaran rindu yang
kau tinggalkan.
Bulan, aku
kembali mengepakkan kedua sayap yang tak lagi penuh tenaga. Beberapa buluku
telah lepas menempuh bermil-mil gelap cakrawala. Hanya untuk menjemputmu.
Bulan, di kejauhan sana, di singgasanamu, kuharap kau dengarkan alunan kidungku
tentangmu. Bulan, kutemui kau di padang penantian.
Masih Menanti
ALK

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
anak negeri