Kamis, 14 Februari 2013

Kutemui Kau di Padang Penantian

Punguk dan Bulan


 Rinduku padamu, Bulan menyemai ratap tiap malam. Tiap larik geguritan menggantung tanpa sempat melenggang. Tanpa penobatan. Tanpa apresiasi. Didengarpun jarang. Perlahan usang.
 Kelesap desau angin memburu dari balik dedaunan. Menjemput sebagian arwahku untuk bertualang. Secongkel rindu masih kukenang. Kubawa terbang bersama malam yang lindap membungkus cahaya.
“Aku kan kembali,” bisikmu di kejauhan lokasi.
“Aku menunggumu,” balasku dengan seutas senyum simpul. Harap dan getir membaur. Sudut bibirku tak mampu menipu hati yang usang.
Secepat kilat, kelam menghanyutkanku. Tanpa cahayamu aku berkelana. Tak jarang sayapku menerjang reranting.
“Aku hanya ingin berjumpa denganmu,” ratapku dalam hati.
Sayapku mulai kaku. Dingin jahannam menyiksaku. Tidak! Aku harus tetap melaju. Mengejarmu. Memburu cahayamu.
Di sela gelisahku kurapal mantra agar kau segera menjelma, Bulanku. Menunggu purnama terasa begitu lama. Lelah jiwaku mengais cintamu. Namun, rinduku tiada pernah surut.
“Aku akan menemuimu tepat pada malam purnama. Ketika rembulan bulat penuh dan bermandi cahaya perak.” Masih kudengar jelas pesanmu saat perjumpaan kita yang terakhir.
“Bulan, di manakah dirimu kini? Rindu dalam dadaku sudah meletup-letup seperti larva panas yang menggeliat ingin keluar,” gumamku dalam malam yang malas.
Kidungku berpacu dengan sorai jangkrik pesta pora. Musim panen katanya. Ah, jengah aku mendengarnya. Mereka gembira ria, sementara aku menderita lantaran rindu yang kau tinggalkan.
Bulan, aku kembali mengepakkan kedua sayap yang tak lagi penuh tenaga. Beberapa buluku telah lepas menempuh bermil-mil gelap cakrawala. Hanya untuk menjemputmu. Bulan, di kejauhan sana, di singgasanamu, kuharap kau dengarkan alunan kidungku tentangmu. Bulan, kutemui kau di padang penantian.  

Malang, 14 Februari 2013
Masih Menanti
ALK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

anak negeri