Rabu, 31 Oktober 2012

Teguran Halus



Selalu terharu bila mendengar anak-anak murajaah. Gemes rasanya pengen segera nyusul. SDIT As-Salam, kelas I A memang oke-oke. Kurasai teguran yang cukup halus ketika aku ditawari bergabung di sana. Berbekal hafalanku yang jus 30 saja masih belum tuntas, nekat membimbing mereka menghafal mulai surat An-Naba'. Alhasil aku pun masih harus lari-lari untuk mengejar ketertinggalanku dari mereka. Tak pernah berharap sih mereka menungguku, tapi ini menjadi lecutan buatku untuk berlari lebih kencang. 

Masa kanak-kanak memang masa brilian untuk mempelajari sesuatu, termasuk hafalan. Ibarat sebuah laptop, mereka belum diisi program apa pun dan kondisinya masih sangat stabil sehingga bisa dimasuki segala macam program yang siap dijalankan. Sementara itu, otakku yang sudah lama terpakai kemungkinan kurang bisa maksimal. Namun, itu tak membuatku patah arang. Di sisa-sisa kapasitas memoriku aku sumpalkan program-program dengan kapasitas yang lebih kecil sehingga aku pun mampu menjalankan apa yang mereka jalankan. Tak ada kata terlambat untuk belajar. Tak ada kata menyesal untuk memulai sesuatu yang lebih bermanfaat. Hamazah! Bismillah, semoga dilancarkan. Aamiin.

Selasa, 30 Oktober 2012

Ingin Mengulang Masa Itu




Ketika raga tak lagi menyatu
Ketika rupa tak menjadi lugu
Tatkala jiwa rencanakan aduk pilu

Diri meraup dalam warna dan rupa
Dalam kesenyapan, kekosongan dan kehampaan


Ingin mengulang masa itu
Masa ketika kopi dituang dalam cangkir
Meruapkan aorma pedas yang kian membekas
Melenakan diri dalam imaji tingkat tinggi

Anyi, lembab, dan terjerembab
Menyembul bagai bazoka
Mengiris dan menyayat bak biola yang dilengkingkan

Dendang asmara mengusung duka
yang tertinggal dan terlupakan

Minggu, 28 Oktober 2012

Basa Kang




Yupa, hidup dalam Mayapada 
Yupa
Terserat pada arca-arca
Menelekung dengan ukiran palawa
Pa
La
Wa

KAWI

Tulisan tak kumengerti
Basa Kang
Basa Mayapada
Membungkam seribu rahasia

Basa Kang
Tanganmu seribu stupa
Lidahmu gejolak samodra
Basa Kang
Menyimpan seribu rahasia

Sabtu, 27 Oktober 2012

Ciuman Kematian




Telah datang membusur panah api
menembus lapisan-lapisan dimensi
Entah dari dimensi ke berapa
Entah dari surga atau neraka

Bau busuk menyelundup
di antara tebaran harum kemenyan
di antara kepulan asap bersayap



Tiba-tiba Israfil tiupkan sangkakalanya
Izrail siapkan keretanya
"Jangan sekarang" katamu
"Aku masih terlalu banyak dosa yang kulakukan"
"Berikan aku kesempatan"

Ah, kesempatan...
Seberapa banyak hidup harus membayar tiap kesempatan yang ia berikan?
Berapa banyak ia harus gadaikan tiap detik waktu yang ia teteskan
Mengapa baru sekarang kau minta kesempatan?
Belum cukupkah bumi lahirkan bencana tuk peringatkan?
Belum jelaskah badai gelombang hempaskan kehancuran!

Apa yang kau tunggu?
Matahari terbit dari barat?
Dajjal tawarkan surga-nerakanya?
Atau Isa menjemput kaumnya?

Kamis, 25 Oktober 2012

Mengiris Rindu Perawan Sunthi




Perawan sunthi
Lap kelip damare ati
Sinurupa aneng raga
Nggawa tentrem kawitane
Nggayuh trisna marang sira
           
Ia masih terluka. Wajahnya pun masih pucat seolah tak ada darah yang mengalir padanya.            
Lemah masih basah tatkala Perawan Sunthi menjejakkan kaki ke tanah. Kulitnya bersih bak pualam tersorot mentari pagi. Kuncup melati mekar perlahan menenggak embun yang tersisa di mahkotanya.
“Raka, bila aku tak menjemput rindu, biar kuiris rindu ini dengan ragamu.”
Matanya menatap jauh dari ubun-ubun. Rambut legam mengurai di bahunya. Bibirnya bergetar pelan. Meski fajar masih menyingsing, tapi, baginya matahari sudah tenggelam. Lelap di pucuk arga.
Dedaunan pun berbisik: Perawan sunthi mengiris rindunya.
Seperti tahu percakapan kembang setaman, angin pun menggulung cerita: Ia masih gigih dengan rasanya.
Burung-burung berkeciak mendendang isi hati. Perawan Sunthi masih bergeming di ujung batu memagut diri. Ia pandangi hamparan lazuardi biru bersih. Tak segumpal awan pun merintang cakrawala.
            Namun, mengapa yang ia rasakan sebaliknya? Hatinya terhempas badai. Terseok-seok dalam kabut yang makin gelap. Gelombang pun ikut meninggi, bergejolak dan siap melibas segala yang dilewatinya.           
Episode-episode kenangan melayang sekilas dalam bayangannya. Mengurai kembali janji-janji yang pernah terlontar di ujung bukit. Runcing pinus jadi saksi ikatan di antara dia dan lelaki yang ia puja.
Perlahan gemuruh dalam hatinya menyurut. Ia coba bangkit. Berjalan meninggalkan batu—saksi bisu—yang ia duduki. Meninggalkan semua kenangan tentang ksatria yang tak kunjung tiba. Meninggalkan parkit-parkit mengadu jerit. Hanya tapak-tapak yang membekas di atas tanah yang masih basah. Semuanya bungkam. Tak ada yang menegurnya. Tak ada pula yang menariknya untuk tetap tinggal. Yang tertinggal hanya singsal kenangan. Hanya sekelumit asa yang tiada terwujud jua.

Kerlip lentera hati
Bersinarlah dalam raga
Membawa tentram mulanya
Walau tiada tahu bagaimana akhirnya

Senin, 22 Oktober 2012

Bisikan Pasir



Menjuntai kata entah ketika lautan pasir menghampar  di tengah gulita
Bersiul memanggul resah pada buhul
Beribu tanda tanya pun mengalir sepotong sepotong
Tumpah penuhi langit mengalahkan beribu bintang
Malam temaram, aku terdiam
Langkah demi langkah merangsek tak tentu arah
Limbung terhempas angin penuh embun
Terseok-seok mencari kau yang tak kunjung kutemukan
Di manakah kau Raka?
Masihkah kau tulis cerita tentang kita pada lembar kehidupan?
Masihkah kau genggam janji hidup yang belum kau penuhi?
Sudah berulang kali kutanyakan pada dedaunan
Tak ada jawab
Sudah pula kutanya malam
Ia hanya diam
Jua kutanya pada bebatuan
Ia hanya katakan tak tahu di mana Tuan
Raka, pada lautan pasir dan deru angin
Kembali kutanyakan
Masihkah kau mengizinkanku singgah di hatimu?

                                                                                                Bromo, 14 Oktober 2012