Kamis, 25 Oktober 2012

Mengiris Rindu Perawan Sunthi




Perawan sunthi
Lap kelip damare ati
Sinurupa aneng raga
Nggawa tentrem kawitane
Nggayuh trisna marang sira
           
Ia masih terluka. Wajahnya pun masih pucat seolah tak ada darah yang mengalir padanya.            
Lemah masih basah tatkala Perawan Sunthi menjejakkan kaki ke tanah. Kulitnya bersih bak pualam tersorot mentari pagi. Kuncup melati mekar perlahan menenggak embun yang tersisa di mahkotanya.
“Raka, bila aku tak menjemput rindu, biar kuiris rindu ini dengan ragamu.”
Matanya menatap jauh dari ubun-ubun. Rambut legam mengurai di bahunya. Bibirnya bergetar pelan. Meski fajar masih menyingsing, tapi, baginya matahari sudah tenggelam. Lelap di pucuk arga.
Dedaunan pun berbisik: Perawan sunthi mengiris rindunya.
Seperti tahu percakapan kembang setaman, angin pun menggulung cerita: Ia masih gigih dengan rasanya.
Burung-burung berkeciak mendendang isi hati. Perawan Sunthi masih bergeming di ujung batu memagut diri. Ia pandangi hamparan lazuardi biru bersih. Tak segumpal awan pun merintang cakrawala.
            Namun, mengapa yang ia rasakan sebaliknya? Hatinya terhempas badai. Terseok-seok dalam kabut yang makin gelap. Gelombang pun ikut meninggi, bergejolak dan siap melibas segala yang dilewatinya.           
Episode-episode kenangan melayang sekilas dalam bayangannya. Mengurai kembali janji-janji yang pernah terlontar di ujung bukit. Runcing pinus jadi saksi ikatan di antara dia dan lelaki yang ia puja.
Perlahan gemuruh dalam hatinya menyurut. Ia coba bangkit. Berjalan meninggalkan batu—saksi bisu—yang ia duduki. Meninggalkan semua kenangan tentang ksatria yang tak kunjung tiba. Meninggalkan parkit-parkit mengadu jerit. Hanya tapak-tapak yang membekas di atas tanah yang masih basah. Semuanya bungkam. Tak ada yang menegurnya. Tak ada pula yang menariknya untuk tetap tinggal. Yang tertinggal hanya singsal kenangan. Hanya sekelumit asa yang tiada terwujud jua.

Kerlip lentera hati
Bersinarlah dalam raga
Membawa tentram mulanya
Walau tiada tahu bagaimana akhirnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

anak negeri