"Rumah di pojokan itu masih punyamu kan?"
"Ya iyalah. Memang sudah berpindah tangan?" jawabku sekenanya.
"Enggak, cuman aneh aja kok aku gak pernah lihat kamu di sana. Malah si kunyuk itu."
"Eh? Maksud kamu?"
"Iya, si kunyuk itu. Andre. Ketua geng Cabe yang waktu itu kamu sikat. Masak lupa sih? Tuh anak kampung sebelah, yang bangga sama kekayakan bapaknya. Masih juga juragan beras, sombongnya minta ampun. Trus... bla bla bla..."
Haish... sejak kapan anak ini ngomongnya kayak jet? Kupingku denging terus denger dia ngoceh.
"Ra, tungguin dong! Jangan cepet-cepet jalannya!"
"Ntar keburu telat!" teriakku.
Sepulang sekolah...
Aku berjalan pelan. Sengaja kuhindari Aca. Aku tak ingin rencanaku kali ini gatot (gagal total) gara-gara dia. Aku ambil jalan memutar. Meski lebih jauh dan lama, aku lebih suka lewat sini. Hamparan sawah masih membentang. Jalannya pun masih setapak. Kerikil yang bertebaran jadi senssasi luar biasa. Bisa untuk terapi rematik mungkin. Jarang lo, pinggiran kota kayak gini. Banyak hal yang kusuka lewat jalan ini, kecuali genangan air di beberapa badan jalan. Bikin sepatu kesayangannku kumal.
"Apa ya yang dilakukan si Andre di sekitar rumahku?" pikirku penasaran. "Masak iya dia mau pasang bom di sana? Alah... gak mungkin." Aku yakin seribu persen, si kunyuk itu tak bakalan berani macam-macam. "Anak bermental tahu macam dia tak perlu dirisaukan," hiburku.
"Ra! Ngapain kamu lewat situ?"
Aku kenal betul suara itu. Aca. Ampun! Sampai kapan anak ini selalu jadi ekorku?
Aku terus berjalan.Tak kuhiraukan teriakannya.
"Ira, tungguin?"
Ih... nih anak, selalu bikin dongkol.
"Woi, ngapain kamu lewat sini? Emang ada jalan tembusnya ya? Ntar kalau kita diculik gimana?" Aca kontan mencerecau seperti burung beo habis makan pisang.
"Plis deh, Ca. Mana ada penculik yang mau nyulik kamu. Ogahlah. Makan kamu kan banyak!"
Tanpa ba-bi-bu Aca menggaplok pundakku.
"Kok kamu gitu sih sama temen sendiri?"
Tanpa merespon protesnya aku ngeloyor pergi.
Beberapa menit kemudian.
"Ra, itu kan si Andre! Ngapain dia di belakang rumah kamu?" celetuk Aca sembari menuding rumah di pojok jalan yang tak lain adalah rumahku. Lewat jalan yang memutar ini, aku persis muncul dari belakang rumah.
Aku masih tertegun. Tak yakin bahwa bocah laki-laki itu si Andre, bocah paling tengil yang aku kenal. Sejurus kemudian, buberikan isyarat pada Aca untuk berhenti. Masih kuperhatikan gerak-gerik Andre. Nampak mencurigakan. Kepala kecilnya celingak-celinguk. Aku dan Aca segera bersembunyi di balik semak di belakang rumah.
Semakin kuperhatikan, lakunya makin aneh. Ia jongkok lalu mengeluarkan sebuah pisau. Ia gali tanah tepat di depannya menggunakan pisau itu. Aku dan Aca masih memperhatikan. Nampak sebuah kotak kecil tua ia masukkan dalam kresek hitam. Setelah yakin lubang yang digalinya cukup dalam, ia tenggelamkan bungkusan itu ke dalamnya. Segera ia kubur rapat-rapat lubang yang telah ia gali.
"Ra, apa ya yang dikubur si Kunyuk itu?" tanya Aca.
Kuacungkan jari telunjuk dan menempelkannya pada kedua bibirku sebagai isyarat agar Aca diam.
Melihat Andre hendak pergi, aku langsung menghambur ke arahnya, "Heh, Kunyuk! Ngapain kamu di belakang rumahku! Barusan itu apa yang kamu kubur? Kamu mau nyantet aku?"
Muka Andre kontan seperti pantat babi. Merah. Nampak dirinya bergetar.
"Jawab dong! Masak beraninya cuma main belakang aja?" tantangku.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia mangkat dari hadapannku. Aku dan Aca hanya melongo.
Bersambung...