Jumat, 10 Mei 2013

Lingsir

Senja

Semangkuk bubur ayam telah terhidang di mejanya. Mitra menaruh seikat kembang seruni di sampingnya. Tepat di depan bingkai fotonya bersama Selly, kekasihnya. Ada getir yang tiba-tiba meletup dari bilik jantungnya. Ia masih terpaku pada potret 4R yang ia pajang di mejanya.
            “Ah, senyum itu,” gumamnya seolah meratap.
            Ia tak pernah bisa membalikkan waktu. Sesal selalu datang pada saat yang tidak tepat. Gemuruh risau merajai hatinya kini. Hidup segan, mati pun tak hendak.
Tanpa gairah ia ambil sesuap bubur ayam yang hampir dingin itu. Sesendok terasa semangkuk penuh bagi perutnya. Ia tak berhasrat. Bukan, bukan karena Selly meninggalkannya. Ia telah begitu rela—walau sedikit memaksa—melepaskan Selly. Ia tak pernah tega melihat gadisnya meratap untuknya. Dirinya bukan lelaki yang pantas untuk mendapatkan tangis gadis lugu itu.
Waktu yang membuatnya jatuh hati pada Selly, maka ia pun membiarkan waktu pula untuk menyembuhkannya dari luka. Ia sadar itu terlalu menyakitkan bagi Selly. Akan tetapi, ia tak ada pilihan lain. Ia harus melakukannya agar Selly tak lebih terluka.
“Sebentar lagi aku akan pergi.” Mitra kembali memandangi fotonya. Nampak menjulang menara Eifel kala senja. Itulah tempat terakhir yang mereka kunjungi bersama.
Masih jelas bercokol di telinganya kala Selly mengatakan, “Lingsir, istilah lain untuk menamai senja. Namun, entah mengapa aku lebih menyukai lingsir. Terasa sekali proses sang mentari menyembunyikan dirinya kala senja. Perlahan lindap di balik perbukitan, atau menggelincir menyelam di luasnya samudra.”
Ah, gadis itu tak pernah tahu bahwa Mitra sebentar lagi benar-benar lingsir. Ia tak kan pernah terbit untuknya esok pagi. Ia akan moksa bersama matahari senja.

Sementara itu, di belahan lain, seorang perempuan berambut hitam kecoklatan duduk di halte menatap mentari yang sebentar lagi lingsir. Matanya tak mau sedikitpun terlepas darinya. Ujung jemarinya bergantian ia mainkan di bangku yang ia duduki. Irama ketukan itu berlomba dengan bising kendaraan lalu lalang. Beberapa bis telah berlalu, sekian orang pun sudah beranjak. Namun, ia belum pula melenggang pergi.
Surya tak mau diajak kompromi. Ia nyaris menenggelamkan tubuhnya. Jingga sudah bercampur ungu kehitaman. Bibir perempuan itu mengucap sederet keluhan, “Ia tak datang lagi.” Bulat telur mukanya nampak penuh saat sinar lampu kota memantul tepat di wajahnya, menegaskan garis mukanya yang segar dan anggun.
Ia betulkan letak jam tangannya yang bergeser. Jam enam tepat. Lelaki yang ditunggunya tak datang lagi. Kecewa, sudah pasti. Hanya saja itu tak memberinya alasan yang tepat untuk menyerah. “Esok, Mitra pasti datang,” ucapnya sembari beranjak dari bangku yang tiap sore jadi teman setianya. Ia meninggalkan bangku itu bercumbu dengan malam yang mulai merangkak.
Malam pun berkuasa di tempat Mitra. Ia menghibur diri dengan main catur. Seorang diri. Tak ada orang lain. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya sendiri. Mengingat kembali potongan-potongan kenangannya bersama Selly.

“Tidak, Mitra, kau tak pantas melakukan itu padaku!” Suara Selly meninggi. Ia mengumpulkan penggalan tenaganya, “kau tak berhak meninggalkanku setelah semua yang kita lewati.”
Mitra hanya diam. Terasa ada yang menyumbat kerongkongannya. Ia tak mampu walau hanya untuk menelan ludah. Bibirnya bungkam. Ia sembunyikan matanya dalam-dalam. Ia tak mau Selly melihat pancaran matanya yang tak bisa berdusta.
“Baiklah kalau itu maumu. Berbahagialah dengan wanitamu. Kuharap kita tak pernah bertemu lagi di lain hari!” Selly meninggalkan Mitra dengan hatinya yang hancur berkeping-keping.
Mitra pun hancur. Wanita lain? Itu hanya kelakar saja agar Selly tanpa sesal meninggalkannya. Satu-satunya perempuan di hatinya hanyalah gadisnya itu. Ia tak pernah membelot. Hanya saja kanker di kepala tak lagi bersahabat. Ia hanya mampu menghitung detak waktu untuk menjemput ajalnya.

Mitra membereskan pion caturnya kala serangan tiba-tiba itu muncul. Telinganya berdenging, tempurung kepalanya seolah hendak meledak. Pion-pion caturnya jatuh berserakan di lantai. Kedua tangannya mencengkeram kepalanya yang botak. Tubuhnya tersungkur. Ia mencoba menahannya. Namun, hasilnya nihil. Seluruh tubuhnya gemetat. Darah mengalir dari lubang hidung, telinga, bahkan mulutnya. Ia berusaha meraih obat di mejanya. Sayangnya yang ia dapatkan hanya segelas air yang kemudian tumpah dan pecah. Semuanya pun gelap, seperti senja yang telah lingsir.

Senja-senja berikutnya, Selly masih menunggu Mitra. Ia berharap Mitra kembali hadir mengemas senja untuk mereka. Di sanalah Selly menghabisnya senjanya. Di sanalah ia menyaksikan matahari lingsir ke peraduan. Ia tak pernah tahu bahwa Mitra ikut lingsir bersama mentari senja.


Malang, 8 Mei 2013
Mendadak ingin menulis tentang senja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

anak negeri